Jumat, 05 Mei 2023

makalah alat tangkap bubu


BAB I
 PENDAHULUAN
1.1  latar Belakang

Bubu merupakan alat tangkap ikan yang termasuk kedalam kelompok “Trap” atau ”Perangkap”. Berdasarkan kelompoknya bubu adalah alat tangkap yang bekerja secara pasif yaitu hanya ditempatkan pada suatu perairan, setelah dipasang/ditempatkan pada suatu perairan kita harus menunggu beberapa waktu sehingga ikan yang akan ditangkap masuk dan terperangkap di dalam bubu.

Bahan dasar untuk membuat bubu belakangan ini bermacam – macam mulai dari bubu berbahan dasar rotan, kawat, besi, jaring, kayu, dan pelastik. Bahan dasar tersebut dianyam dan dirangkai sedemikian rupa sehingga memiliki bentuk tabung (mirip bola rugby), balok, ataupun bentuk yang lainnya dengan satu lubang, dua lubang, atau lebih, yang berfungsi sebagai tempat masuknya ikan, dan lubang pintu yang digunakan untuk mengambil ikan yang ada di dalamnya. Prinsip kerja dari bubu adalah dengan cara menjebak pengelihatan ikan sehingga ikan akan tertangkap di dalamnya. Selain dikenal dengan nama bubu alat ini juga biasa dipanggil dengan nama “Fishing Pots” atau “Fishing Basket” (Brandt, 1984).

1.2  Tujuan Makalah
     
      Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk pengetahuan jenis bubu dan penggunaan nya di aceh terutama di abdia

1.3  Rumusan Masalah

1.      Bagai mana bubu yang baik di gunakan………?
2.      Hasil tangkapan bubu………………………….?
3.      Keselektifitas bubu dan bahan pembuatan bubu?






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Rumajar, (2002) Bubu adalah perangkap yang mempunyai satu atau dua pintu masuk dan dapat diangkat ke beberapa daerah penangkapan dengan mudah, dengan atau tanpa perahu. Sedangkan menurut Martasuganda, (2005) teknologi penangkapan menggunakan bubu ini banyak dilakukan di negara – negara menengah maupun negara – negara maju. Untuk sekala kecil dan menengah alat tangkap bubu banyak digunakan di perairan pantai, biasanya negara – negara yang perikanannya belum maju yang melakukan hal ini, bubu sekala kecil digunakan untuk menangkap ikan, kepiting, udang, maupun kerang – kerangan di dasar perairan yang dangkal. Sedangkan untuk negara yang perikanannya sudah maju bubu digunakan di lepas pantai yang ditujukan untuk menangkap ikan – ikan dasar, kepiting, dan udang dengan kedalaman sekitar 20 m sampai 700 m.

Subani dan Barus (1989), menyatakan bahwa Bentuk dari bubu bermacam-macam yaitu bubu berbentuk lipat, sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjakan (kubus), atau segi banyak, bulat setengah lingkaran dan lain-lainnya. Bubu terbagi kedalam tiga bagian besar, yaitu bagian badan (body), mulut (funnel), dan pintu. Bagian badan pada bubu berupa rongga – rongga dimana ikan biasanya terperangkap. Bagian mulut pada bubu biasanya berbentuk corong, adalah sebuah lubang yang bersifat satu arah (apabila ikan masuk, maka ikan tidak dapat keluar lagi). Sedangkan bagian pintu pada bubu merupakan tempat dimana hasil tangkapan diambil.
         
             Brandt (1984), mengklasifikasi bubu menjadi beberapa jenis, yaitu :
    Berdasarkan sifatnya sebagai tempat bersembunyi / berlindung :
a. Perangkap menyerupai sisir (brush trap)
b. Perangkap bentuk pipa (eel tubes)
c. Perangkap cumi-cumi berbentuk pots (octoaupuspots)


   Berdasarkan sifatnya sebagai penghalang
a. Perangkap yang terdapat dinding / bendungan
b. Perangkap dengan pagar-pagar (fences)
c. Perangkap dengan jeruji (grating)
d. Ruangan yang dapat terlihat ketika ikan masuk (watched chambers)


Berdasarkan sifatnya sebagai penutup mekanis bila tersentuh
a. Perangkap kotak (box trap)
b. Perangkap dengan lengkungan batang (bend rod trap)
c. Perangkap bertegangan (torsion trap)


Berdasarkan dari bahan pembuatnya
a. Perangkap dari bahan alam (genuine tubular traps)
b. Perangkap dari alam (smooth tubular)
c. Perangkap kerangka berduri (throrrea line trap)


Berdasarkan ukuran, tiga dimensi dan dilengkapi dengan penghalang
a. Perangkap bentuk jambangan bunga (pots)
b. Perangkap bentuk kerucut (conice)
c. Perangkap berangka besi

         Konstruksi Alat Penangkapan 
              Satu unit bubu keong macan terdiri dari bubu, tali utama, tali cabang, pelampung tanda dan lampu tanda -bagian bubu keong macan terdiri atas badan bubu, mulut bubu, pemberat dan tempat untuk meletakkan umpan. Badan bubu terbuat dari anyaman bambu dengan ukuran panjang x lebar x tinggi = 20 x 20 x 7 cm. Mulut bubu berbentuk bulat dengan diameter 10 cm yang berfungsi sebagai tempat masuknya keong macan ke dalam bubu. Pemberat bubu terbuat dari campuran semen dan pasir yang dipasang pada keempat sudut di sisi bawah bubu yang berfungsi agar posisi bubu tetap tegak ketika ada di dasar perairan. Tempat untuk meletakkan umpan terbuat dari kawat yang dipasang melintang pada diameter mulut bubu sepanjang 15 cm (Esman 2006).
         
            Bubu Sungai

Bubu sungai adalah alat penangkap ikan dengan mulut berbentuk lingkaran dan pintu berbentuk lingkaran, terbuat dari bambu yang dianyam sedemikian rupa menyerupai kurungan berbentuk silindris atau agak lonjong dan dioperasikan di sungai. Bubu sungai diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang (von Brandt 1984).




BAB III
PEMBAHASAN
          BLANG PIDIE Sebagian masyarakat pendesaan di Kabupaten Aceh Barat Daya masih menggunakan bubee (Bubu) sebagai alat tangkap ikan. Bubee merupakan alat tangkap ikan tradisional yang dulu sering digunakan masyarakat Aceh.  Bubee ini terbuat dari bambu yang dianyam berbentuk bulat panjang seperti guci.
Pada bagian dalam bubu dipasang tutup dari anyaman bambu yang bagian dalamnya dibiarkan terurai menghadap ke dalam sehingga ikan yang sudah masuk ke dalamnya tidak bisa keluar lagi.
“Bubee masih selalu kami gunakan untuk menangkap ikan di anak sungai yang kecil dan rawa-rawa yang agak dangkal. Hasilnya lumayan, khususnya ketika harga ikan laut mahal,” ungkap warga Gampong Iku Lhung Kecamatan Jumpa Kabupaten Abdya, Anas, Senin (10/10/2016).
Bubee tidak saja digunakan pada daerah aliran sungai semata, tetapi juga sering digunakan di areal air payau, terutama untuk menangkap ikan lele, udang serta ikan air tawar lainnya. ”Musim penangkapan menggunakan Bubee ini umumnya dapat dilakukan sepanjang tahun dan tidak mengenal musim,”sebutnya.
Cara kerja Bubee lanjut Anas, biasanya ditenggelamkan ke dasar sungai dan dibiarkan beberapa lama, bahkan bisa sehari penuh. ”Bubee baru akan diangkat apabila dirasakan sudah ada ikan atau udang yang masuk ke dalamnya setelah sebelumnya terlebih dahulu dipancing menggunakan umpan,”terangnya.
Description: Bubee, Alat Tangkap Ikan yang Masih Dilestarikan
Usaha perikanan terutama perikanan tangkap bersifat quick yielding (cepat memberikan hasil) dan profitable, meskipun berisiko. Namun demikian, kenyataanya pelaku usaha perikanan tangkap, terutama nelayan pada umumnya berpendapatan rendah, miskin dan kurang sejahtera. Beberapa permasalahan  yang  dihadapi  oleh  nelayan  dalam  kegiatan  penangkapan  adalah  ketergantungan terhadap kondisi ketersediaan sumberdaya ikan dan kondisi alam. Peningkatan jumlah nelayan mencapai 50% dalam satu dasa warsa, hal tersebut menyebabkan meningkatkan tekanan yang mempercepat kerusakan sumberdaya alam dan penurunan keanekaragaman hayati. Pada beberapa daerah bahkan sudah mengalami lebih tangkap/over fishing yang sangat nyata.
Terbitnya Peraturan Menteri Kelautan dan PerIkanan No. 02 Tahun 2015 yang melarang penggunaan alat tangkap Pukat hela (Trawls) dan alat tangkap Pukat tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia merupakan gerakan kesadaran Pemerintah melalui menteri Kelautan dan Perikanan kepada masyarakat luas untuk lebih serius memanfaatkan, men jaga, dan mengelola sumberdaya alam laut yang memiliki potensi besar yang terkandung didalamnya.
Salah satu solusi untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan di perairan laut, maka perlu adanya suatu terobosan yaitu dengan desain alat tangkap yang ramah lingkungan. Salah satu jenis alat tangkap ramah lingkungan adalah Bubu (fish trap). Pada tahun 1995, PBB melalui FAO (Food Agriculture Organization) menetapkan suatu tata cara bagi kegiatan penangkapan ikan yang bertanggung jawab yang disebut CCRF (Code of Conduct for Resposible Fisheries). Dalam CCRF ada 9 (sembilan) kriteria bagi teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan, yaitu :
1.      Memiliki selektivitas tinggi
Artinya, alat tangkap tersebut diupayakan hanya dapat menangkap ikan/organisme lain yang menjadi sasaran penangkapan saja. Ada dua macam selektivitas yang menjadi sub kriteria, yaitu selektivitas ukuran dan selektivitas jenis.
2.      Hasil tangkapan sampingan (bycatch) rendah
Bycatch  merupakan  tangkapan  ikan  non  target  yang  tertangkap  dalam  proses  penangkapan, dimana tangkapan sampingan ini tertangkap bersamaan dengan ikan target penangkapan.
3.      Hasil tangkapan berkualitas tinggi
Hasil tangkapan yang diperoleh masih mempunyai kualitas mutu yang baik pada saat sampai di tangan konsumen/ pengguna.
4.      Tidak merusak habitat / lingkungan (destruktif)
Alat tangkap yang tidak merusak habitat dapat dilihat dari metode penangkapan ikan dan pengoperasian alat tangkap, baik yang dioperasikan di dasar perairan, di tengah perairan maupun di permukaan perairan.
5.      Mempertahankan keanekaragaman hayati
Dampak  terhadap  biodiversity  merupakan  pengaruh  buruk  dari  pengoperasian  alat  tangkap terhadap keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan tempat pengoperasian alat tangkap. Alat tangkap yang digunakan tidak dimodifikasi, selain itu tidak menggunakan bahan yang merusak lingkungan seperti penggunaan racun, bom, potas dan lainnya. Hal ini dapat dapat merusak kelangsungan kehidupan biota perairan (Ikan, Plankton, Benthos dan lainnya).
6.      Tidak menangkap spesies yang dilindungi/terancam punah
Alat tangkap dikatakan berbahaya terhadap spesies yang dilindungi apabila dalam pengoperasiannya tertangkap spesies yang dilindungi dalam frekuensi relatif besar. Dalam pengoperasian alat tangkap tidak menangkap ikan yang dilindungi atau ikan yang dilarang oleh pemerintah untuk ditangkap misalnya penyu, dugong‐dugong dan lumba‐lumba.
7.      Pengoperasian API tidak membahayakan keselamatan
Tingkat bahaya atau resiko yang diterima oleh nelayan dalam mengoperasikan alat tangkap tergantung pada jenis alat tangkap yang digunakan dan keahlian nelayan dalam mengoperasikan alat tangkap tersebut.
8.      Tidak melakukan penangkapan di daerah terlarang
Tidak menangkap ikan di daerah penangkapan yang dinyatakan: lebih tangkap, di kawasan konservasi, di daerah penangkapan yang ditutup, di daerah yang tercemar dengan logam berat dan di kawasan perairan lainnya yang dinyatakan terlarang, seperti alur masuk pelabuhan.
9.      Dapat diterima secara sosial
Suatu alat diterima secara sosial oleh masyarakat apabila biaya investasi murah, menguntungkan secara ekonomi, tidak bertentangan dengan budaya setempat, tidak bertentangan dengan peraturan yang ada.
Bubu adalah alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang berupa jebakan, dan bersifat pasif. Bubu sering juga disebut perangkap “traps“ dan penghadang “guiding barriers”. Alat ini berbentuk kurungan seperti ruangan tertutup sehingga ikan tidak dapat keluar. Bubu merupakan alat tangkap pasif, tradisional yang berupa perangkap ikan tersebut dari bubu, rotan, kawat, besi, jaring, kayu dan plastik yang dijalin sedemikian rupa sehingga ikan yang masuk tidak dapat keluar. Prinsip dasar dari bubu adalah menjebak penglihatan ikan sehingga ikan tersebut terperangkap di dalamnya, alat ini sering diberi nama fishing pots atau fishing basket (Brandt, 1984).
Description: http://kanalpengetahuan.faperta.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/140/2017/10/bubu-1-300x235.jpg
Gambar 1. Model bubu dengan bentuk kubus, dengan satu mulut (funnel) (Rachman, 2017).
Description: http://kanalpengetahuan.faperta.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/140/2017/10/bubu2-243x300.jpg
Gambar 2. Bubu dengan model tabung (ranchman, 2017)
A. Pengertian Bubu

Bubu merupakan alat tangkap ikan yang termasuk kedalam kelompok “Trap” atau ”Perangkap”. Berdasarkan kelompoknya bubu adalah alat tangkap yang bekerja secara pasif yaitu hanya ditempatkan pada suatu perairan, setelah dipasang/ditempatkan pada suatu perairan kita harus menunggu beberapa waktu sehingga ikan yang akan ditangkap masuk dan terperangkap di dalam bubu.

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEia_mn54rEThkdKmI4_3N2UOcAZprZ5w6jzTyd2KaNQOIPd94hDWgSW-8JBQSee9bQX7hanP8kHXepWOUhF6t-V4X8dbKZpJM0WWhJGGAIkn0zGd7agHXjW6pONygbqw8agDoGP2XDA3AQ/s400/bubu.jpg
Gambar Alat tangkap Bubu

Adapun cara pengoprasian bubu sebagai berikut :
1.                  Pada sekeliling bubu diikatkan rumput laut.


2.                  Bubu disusun dalam 3 kelompok yang saling berhubungan melalui tali penonda (drifting line).


3.                  Penyusunan kelompok (contohnya ada 20 buah bubu) : 10 buah diikatkan pada ujung tali penonda terakhir, kelompok berikutnya terdiri dari 8 buah dan selanjutnya 4 buah lalu disambung dengan tali penonda yang langsung diikat dengan perahu penangkap dan diulur kira – kira antara 60 – 150 m.


4.                  Waktu pengoprasian bubu adalah 3 hari 2 malam. Menurut para nelayan bubu, operasi penangkapan ikan dengan menggunakan bubu idealnya dilakukan selama 3 hari 2 malam atau maksimal 4 hari 3 malam. Apabila terlalu lama dioprasikan (lebih dari 4 hari), maka kelungkinan ikan yang tertangkap akan mengalami kematian atau luka – luka.

D. Daerah Penangkapan
Daerah penangkapan yang dapat dilakukan berdasarkan jenis bubu, sebagai berikut :
1.                  Bubu Dasar (Ground Fish Pots). Dalam operasi penangkapan, bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan.


2.                  Bubu Apung (Floating Fish Pots). Dalam operasi penangkapan, bubu apung dihubungkan dengan tali yang disesuaikan dengan kedalaman tali, yang biasanya dipasang pada kedalaman 1,5 kali dari kedalaman air.


3.                  Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots). Dalam operasi penangkapan, bubu hanyut ini sesuai dengan namanya yaitu dengan menghanyutkan ke dalam air.

E. Hasil Tangkap Bubu
Hasil tangkap dari alat tangkap bubu ini berupa :
1.                  Bubu Dasar (Ground Fish Pots). Hasil tangkapan dengan bubu dasar umumnya terdiri dari jenis-jenis ikan, udang kualitas baik, seperti Kwe (Caranx spp), Baronang (Siganus spp), Kerapu (Epinephelus spp), Kakap ( Lutjanus spp), kakatua (Scarus spp), Ekor kuning (Caeslo spp), Ikan Kaji (Diagramma spp), Lencam (Lethrinus spp), udang penaeld, udang barong, kepiting, rajungan, dll.


2.                  Bubu Apung (Floating Fish Pots). Hasil tangkapan bubu apung adalah jenis-jenis ikan pelagik, seperti tembang, japuh, julung-julung, torani, kembung, selar, dll.


3.                  Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots). Hasil tangkapan bubu hanyut adalah ikan torani, ikan terbang (flying fish).



F. Alat Bantu Penangkapan
Dalam operasi penangkapan, terdapat alat bantu penangkapan yang bertujuan untuk mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak. Alat bantu penangkapan tersebut antara lain :
·                     Umpan: Umpan diletakkan di dalam bubu yang akan dioperasikan. Umpan yang dibuat disesuaikan dengan jenis ikan ataupun udang yg menjadi tujuan penangkapan.


·                     Rumpon: Pemasangan rumpon berguna dalam pengumpulan ikan.


·                     Pelampung: Penggunaan pelampung membantu dalam pemasangan bubu, dengan tujuan agar memudahkan mengetahui tempat-tempat dimana bubu dipasang.


·                     Perahu: Perahu digunakan sebagai alat transportasi dari darat ke laut (daerah tempat pemasangan bubu).


·                     Katrol: Membantu dalam pengangkatan bubu. Biasanya penggunaan katrol pada pengoperasian bubu jermal.
Contoh-contoh Bubu
Ada beberapa macam bubu, setiap jenis bubu berbeda-beda tujuan hasil penangkapannya, pengoprasiannya namun fungsinya tetap sama sebagai perangkap. Anatara lain contoh bubu, sebagai berikut :

1. Bubu Keong Macan
Bubu keong macan adalah alat tangkap yang dikhususkan untuk menangkap keong macan, terbuat dari bambu yang dianyam sedemikian rupa menyerupai persegi atau kotak dan dioperasikan di dasar perairan. Bubu keong macan diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang (Martasuganda 2003).

Konstruksi Alat Penangkapan 
Satu unit bubu keong macan terdiri dari bubu, tali utama, tali cabang, pelampung tanda dan lampu tanda (Esman 2006).



1.                  BubuBagian-bagian bubu keong macan terdiri atas badan bubu, mulut bubu, pemberat dan tempat untuk meletakkan umpan. Badan bubu terbuat dari anyaman bambu dengan ukuran panjang x lebar x tinggi = 20 x 20 x 7 cm. Mulut bubu berbentuk bulat dengan diameter 10 cm yang berfungsi sebagai tempat masuknya keong macan ke dalam bubu. Pemberat bubu terbuat dari campuran semen dan pasir yang dipasang pada keempat sudut di sisi bawah bubu yang berfungsi agar posisi bubu tetap tegak ketika ada di dasar perairan. Tempat untuk meletakkan umpan terbuat dari kawat yang dipasang melintang pada diameter mulut bubu sepanjang 15 cm (Esman 2006).


2.                  Tali utamaBerfungsi untuk merangkai bubu yang satu ke bubu yang lain. Tali utama terbuat dari bahan PE berdiameter 6 mm dengan jarak antara tali cabang 2-3 m. Panjang tali utama berkisar 800-1200 m (Esman 2006)


3.                  Tali cabangSebagai tempat dipasangnya bubu keong macan, terbuat dari PE dengan diameter 3 mm, panjang tali cabang masing-masing 1 sampai 1,5 m untuk setiap bubu (Esman 2006)


4.                  Pelampung tandaBerfungsi untuk menandakan tempat bubu keong macan dipasang. Pelampung tanda berjumlah satu buah, terbuat dari tiang bambu atau kayu dengan panjang 1 m dan dilengkapi dengan bendera. Bagian bawah pelampung tanda diberi pemberat agar pelampung tanda tetap berdiri tegak dan styrofoam agar pelampung tanda tetap mengapung di atas air. Pelampung tanda dihubungkan ke tali utama sepanjang 3 m (Esman 2006)


5.                  Lampu tandaMerupakan pelampung dari kayu berukuran alas 65 x 65 cm dan dipasang tiang setinggi 50 cm. Tiang tersebut sebagai tempat dipasangnya lampu (1 buah) yang terbuat dari botol minuman bekas yang diberi sumbu dan minyak tanah serta dilengkapi tali dengan bahan PE berdiameter 6 mm sepanjang 3 m untuk disambung ke tali utama. Lampu tanda berfungsi sebagai alat bantu penerangan untuk memudahkan nelayan dalam menentukan kedudukan bubu keong macan di dalam air (Esman 2006).

Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan


1.                  Kapal.Perahu yang digunakan pada pengoperasian bubu keong macan adalah perahu yang menggunakan mesin dalam (inboard engine) berkekuatan 12, 16 dan 20 PK dengan bahan bakar solar. Perahu yang digunakan terbuat dari bahan kayu dengan ukuran berkisar 0,87-2,48 GT dengan panjang (L) antara 6-8 m, lebar (B) 1,3-2 m dan dalam (D) 0,5-0,8 m dengan mesin perahu terletak di bagian tengah kapal (Esman 2006).


2.                  NelayanJumlah nelayan yang mengoperasikan bubu keong macan adalah 3-4 orang, yang masing-masing nelayan bertugas sebagai juru kemudi dan menentukan daerah penangkapan keong macan, menurunkan bubu, mengangkat bubu dan memasang umpan (Esman 2006).


3.                  Alat BantuAlat bantu pada pengoperasian bubu keong macan adalah gardan yang biasa dibuat dari bambu, kayu atau besi yang berfungsi untuk membantu proses setting dan hauling bubu keong macan (Martasuganda 2003).


4.                  UmpanUmpan yang digunakan biasanya ikan pepetek. Ikan tersebut dipotong terlebih dahulu dengan ukuran 5 cm kemudian diletakkan pada tempat umpan yang terbuat dari kawat. Selain itu, bisa juga digunakan ikan rucah berupa ikan-ikan kecil (Martasuganda 2003).
Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian bubu keong macan biasanya di perairan pantai yang dasarnya berlumpur, berlumpur bercampur pasir atau perairan yang banyak dihuni oleh keong macan dengan kedalaman antara 5-20 meter, tergantung keberadaan keong macan di daerah penangkapan (Martasuganda 2003). Daerah distribusi bubu keong macan adalah di sekitar perairan Pulau Cangkir, Tanjung Pasir dan Tanjung Kait (Esman 2006).

Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan bubu keong macan adalah keong macan (Babylonia spirata) dan beberapa jenis keong lainnya (Martasuganda 2003).



Konstruksi Alat Penangkap Ikan
Menurut Subani dan Barus (1989), bagian-bagian bubu sungai yaitu sebagai berikut :
1.                  Badan (body)Seperti rongga (berbentuk silinder) yang terbuat dari anyaman bambu, berfungsi sebagai tempat target tangkapan terkurung.


2.                  Mulut berbentuk lingkaranMerupakan lubang tempat masuknya ikan ke dalam bubu sungai


3.                  Pintu berbentuk kerucutMerupakan tempat mengambil hasil tangkapan.

Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan

1.                  KapalPerahu digunakan sebagai alat transportasi nelayan (Subani dan Barus 1989)


2.                  NelayanJumlah nelayan yaitu dua orang yang bertugas untuk mengemudikan perahu dan mengoperasikan bubu sungai (Subani dan Barus 1989).
3.                   
Metode Pengoperasian Alat

Adapun tahapan dalam pengoperasian bubu sungai ada tiga tahap, yaitu sebagai berikut (Winugroho 2007). Bubu sungai diturunkan dan dioperasikan secara menetap di sungai (setting). Kemudian bubu sungai direndam selama 5-8 jam. Setelah itu, bubu sungai diangkat (hauling). Sebelum bubu sungai diangkat, pintu bubu ditutup terlebih dahulu agar ikan yang terperangkap tidak bisa keluar dari bubu, kemudian bubu diangkat dan hasil tangkapan dapat diambil oleh nelayan.

Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian bubu sungai biasanya di daerah sungai yang beraliran deras, terdapat batuan dan tidak terlalu dalam. Daerah distribusi bubu sungai adalah Kalimantan, Papua dan Jambi (Winugroho 2007).

Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan bubu sungai adalah ikan air tawar yang hidup di daerah aliran sungai, seperti gabus (Channa striata), sepat (Trichogaster sp.), mujair (Oreochromis mossambicus) dan mas (Cyprinus carpio) (Winugroho 2007).

3. Bubu Udang (Shrimp Traps)
Bubu udang adalah alat penangkap ikan yang didesain untuk menangkap udang penaeid, dan kepiting atau rajungan, berbentuk silinder dengan diameter lingkaran atas lebih kecil daripada diameter lingkaran bawah dan dioperasikan di dasar perairan. Bubu udang diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang (Subani dan Barus 1989).

Konstruksi Alat Penangkapan 
Menurut Subani dan Barus (1989), bagian-bagian bubu udang yaitu sebagai berikut.

1.                   Rangka (frame)Rangka terbuat dari lempengan besi. Rangka berfungsi untuk mempertahankan bentuk bubu selama pengoperasian


2.                  Badan (body)Seperti rongga (berbentuk silinder) yang terbuat dari anyaman jaring, berfungsi sebagai tempat target tangkapan terkurung


3.                  MulutSedengan tipe mulut persegi panjang, merupakan lubang tempat masuknya ikan ke dalam bubu.

Untuk memudahkan mengetahui tempat-tempat di mana bubu udang dipasang, maka dilengkapi dengan pelampung melalui tali panjang yang dihubungkan dengan bubu tersebut. Ukuran bubu udang pada gambar termasuk bubu kecil dengan diameter atas=15 cm, diameter bawah=20 cm serta tinggi bubu= 18 cm (Subani dan Barus 1989).

Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan


1.                  KapalKapal kecil atau perahu hanya digunakan sebagai alat transportasi nelayan


2.                  NelayanUntuk mengoperasikan bubu udang dibutuhkan 1-2 orang nelayan yang bertugas untuk memasang dan mengangkat bubu, serta mengambil hasil tangkapan dari dalam bubu udang.


3.                  Alat BantuAlat bantu pada pengoperasian bubu udang yaitu mechanical line hauler, berfungsi untuk membantu menurunkan bubu udang ke dasar perairan tempat bubu akan dioperasikan (Sainsbury 1996 diacu dalam Susilo 2006).


4.                  UmpanBubu udang bersifat pasif sehingga dibutuhkan pemikat atau umpan agar ikan yang akan dijadikan target tangkapan mau masuk ke dalam bubu udang. Jenis umpan yang dipakai sangat beraneka ragam, ada yang memakai umpan hidup atau ikan rucah (Martasuganda 2003).

Metode Pengoperasian Alat
Adapun tahapan dalam pengoperasian bubu udang ada empat tahap, yaitu sebagai berikut (Sainsbury 1996 diacu dalam Susilo 2006).


1.                  Pemasangan umpanPosisi umpan harus didesain sedemikian rupa sehingga mampu menarik perhatian ikan baik dari bau maupun bentuknya. Biasanya umpan dipasang di dalam tempat umpan dan diletakkan di atas mulut bubu udang bagian atas.


2.                  Pemasangan bubu (setting)Bubu yang telah siap diturunkan ke perairan baik dengan tangan maupun alat bantu mechanical line hauler. Sebagai penanda posisi pemasangan bubu udang dilengkapi dengan pelampung. Hal ini akan memudahkan nelayan menemukan kembali bubunya.


3.                  Perendaman bubu (soaking)Lama perendaman bubu udang adalah 2-3 hari.


4.                  Pengangkatan bubu (hauling)Proses hauling pada bubu dapat dilakukan dengan alat bantu. Penggunaan alat bantu akan mempercepat dan mengefisienkan tenaga nelayan selama proses hauling. Setelah bubu sampai di atas kapal, ikan dikeluarkan dan dilakukan penanganan.

Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian bubu udang biasanya di perairan karang atau di antara karang-karang atau bebatuan (Subani dan Barus 1989).


























BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
            Kesimpulan pada makalah ini antara lain sebagai berikut;
1.      masyarakat pendesaan di Kabupaten Aceh Barat Daya masih menggunakan bubee (Bubu) sebagai alat tangkap ikan.
2.      hasil tangkapan bubu sungai adalah ikan air tawar yang hidup di daerah aliran sungai, seperti gabus (Channa striata), sepat (Trichogaster sp.), mujair (Oreochromis mossambicus) dan mas (Cyprinus carpio)
3.      UmpanBubu udang bersifat pasif sehingga dibutuhkan pemikat atau umpan agar ikan yang akan dijadikan target tangkapan mau masuk ke dalam bubu udang
4.      Daerah pengoperasian bubu udang biasanya di perairan karang atau di antara karang-karang atau bebatuan
5.      Pemasangan umpanPosisi umpan harus didesain sedemikian rupa sehingga mampu menarik perhatian ikan baik dari bau maupun bentuknya
4.2 Saran
          Semoga makalah kami di terima dengan baik dan di hargai dengan nilai yang sewajarnya






















DAFTAR PUSTAKA

Martasuganda S. 2003. Bubu (Traps). Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Iskandar, M.D. 2010. Penuntun Praktikum Teknologi Alat Penangkapan Ikan.       Departemen Pemanfaatan sumberdaya Perikanan. Institut Pertanian Bogor.

Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol II No.2. Jakarta : Balai Riset Perikanan Laut, Departemen Pertanian.

Von Brandt, A. 1984. Fish Catching Methods of The World. Fishing News Books. Ltd, London. 190 hal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

laporan analisis sistem perikanan tangkap

Laporan Praktikum Analisis Sistem Perikanan Tangkap PENGEMBANGAN PENANGKAPAN IKAN TUNA MENGGUNAKAN DIAGRAM CAUSAL LOOP Oleh Nu...